Pidato Haul Mbah Syakaruddin di Pasuruan: Seruan Menjaga NU, Wali Songo, dan Persatuan Nusantara

Pidato Haul Mbah Syakaruddin di Pasuruan: Seruan Menjaga NU, Wali Songo, dan Persatuan Nusantara. Tradisi haul ulama kembali menjadi ruang penting
Warta Batavia - Tradisi haul ulama kembali menjadi ruang penting bagi umat Islam Indonesia untuk merawat sejarah, spiritualitas, dan persatuan bangsa. Dalam sebuah acara haul besar di Pasuruan yang digelar untuk mengenang Mbah Syakaruddin bin Mbah Saleh Semendi, berbagai pesan keagamaan, kebangsaan, hingga kritik sosial disampaikan dengan gaya khas pesantren yang penuh humor, doa, dan semangat persaudaraan.

Acara yang dihadiri para kiai, habaib, santri, tokoh keraton, hingga aparat pemerintah tersebut tidak hanya menjadi momentum doa bersama, tetapi juga panggung penegasan identitas Islam Nusantara dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai kekuatan sosial-keagamaan Indonesia.


Pidato Haul Mbah Syakaruddin di Pasuruan Seruan Menjaga NU, Wali Songo, dan Persatuan Nusantara


Haul Ulama dan Tradisi Barokah Pesantren

Sejak awal ceramah, suasana religius terasa kuat melalui lantunan doa-doa dan pujian kepada Allah serta Rasulullah SAW. Sang penceramah mengajak jamaah untuk mendoakan guru-guru pesantren, para ulama, dan keturunan mereka agar terus mendapatkan keberkahan hingga hari kiamat.

Dalam tradisi pesantren, haul bukan sekadar peringatan wafat tokoh agama. Haul dipahami sebagai media ngalap barokah, menyambung sanad spiritual, sekaligus mempererat hubungan antara generasi sekarang dengan perjuangan ulama terdahulu.

“Allah panjangkan umur guru-guru kita. Allah barokahkan ilmu guru-guru kita,” ucap sang penceramah di hadapan ribuan jamaah.

Nama Mbah Syakaruddin dan Mbah Saleh Semendi disebut sebagai bagian penting dari jaringan ulama Nusantara yang memiliki hubungan dengan tradisi Wali Songo dan Kesultanan Banten. Hal itu memperkuat narasi bahwa Islam di Indonesia berkembang melalui jalur dakwah damai, pesantren, dan hubungan kekeluargaan antarsesama ulama.

Menjaga Sejarah dan Melawan “Perampok Sejarah”

Salah satu bagian pidato yang paling menyita perhatian adalah ketika sang penceramah berbicara tentang bahaya “perampok sejarah”. Istilah ini digunakan untuk menyindir pihak-pihak yang dianggap mengklaim sejarah atau tokoh daerah demi kepentingan tertentu.

Menurutnya, saat ini bukan hanya ada perampok harta, tetapi juga perampok identitas dan sejarah umat.

“Ada kuburan yang sudah punya nama, lalu ditambah-tambahin nama yang tidak ada kaitannya. Sejarahnya kemudian bergeser dari leluhur kita kepada leluhur orang lain,” ujarnya.

Pernyataan tersebut langsung disambut sorakan jamaah. Ia menilai, jika sejarah lokal direbut dan dimanipulasi, maka generasi penerus bisa kehilangan jati dirinya sendiri.

Narasi tentang pentingnya menjaga sejarah leluhur ini menjadi salah satu tema sentral dalam ceramah tersebut. Haul diposisikan bukan hanya sebagai ritual agama, tetapi juga benteng budaya untuk menjaga identitas Islam Nusantara.

Nahdlatul Ulama Disebut Penjaga Indonesia

Dalam pidato yang berlangsung panjang itu, NU berkali-kali disebut sebagai pilar utama persatuan Indonesia. Sang penceramah menegaskan bahwa mayoritas umat Islam Indonesia berada dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang diwariskan oleh para Wali Songo.

“Selagi Nahdlatul Ulama kuat, Indonesia akan kuat,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Ia juga menyoroti berbagai upaya yang dianggap ingin memecah belah NU melalui berbagai kelompok dan istilah baru. Namun menurutnya, semua upaya tersebut tidak akan mampu menggoyahkan organisasi yang memiliki akar sejarah panjang di Indonesia.

Bahkan sejumlah organisasi dan gerakan disebut secara langsung sebagai contoh kelompok yang akhirnya bubar atau kehilangan pengaruh ketika berhadapan dengan kekuatan sosial NU.

Pidato itu memperlihatkan bagaimana NU diposisikan bukan hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga simbol nasionalisme, penjaga Pancasila, dan benteng NKRI.

Seruan Menjaga Persatuan Bangsa

Selain bicara soal keagamaan, ceramah tersebut juga dipenuhi pesan kebangsaan. Sang penceramah menegaskan bahwa Indonesia adalah milik seluruh putra-putri Nusantara dan tidak boleh kembali dijajah, baik secara fisik maupun ekonomi.

Ia menyebut kekayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke harus dinikmati rakyat Indonesia sendiri, bukan hanya segelintir pihak.

“Jangan sampai anak-anak Indonesia hanya menjadi penonton di negeri sendiri,” katanya.

Dalam konteks kebinekaan, ia juga menegaskan pentingnya hubungan harmonis antara mayoritas dan minoritas. Menurutnya, umat Islam sebagai mayoritas harus melindungi kelompok minoritas, sementara kelompok minoritas juga perlu menghormati mayoritas agar tercipta ketenangan sosial.

Pesan ini menjadi penegasan bahwa Islam Nusantara yang dibawa NU mengedepankan toleransi, kasih sayang, dan persatuan bangsa.

Kritik terhadap Paham Radikal dan Anti-Pesantren

Ceramah tersebut juga berisi kritik keras terhadap kelompok yang dianggap menyerang tradisi pesantren dan ajaran NU. Wahabi dan kelompok radikal disebut sebagai ancaman terhadap tradisi Islam Nusantara.

Menurutnya, Islam yang benar adalah Islam yang memiliki sanad keilmuan jelas, diwariskan dari guru ke guru hingga tersambung kepada Rasulullah SAW.

“Itulah Islam yang sanadannya jelas, diwariskan turun-temurun dari guru kepada guru sampai kepada Nabi Muhammad,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak mudah terpengaruh ideologi baru yang dianggap menjauhkan umat dari tradisi para ulama pesantren.

Dalam bagian lain, ia bahkan menyarankan agar keluarga yang memiliki anggota terpapar paham berbeda untuk lebih banyak mendoakan daripada memaksakan debat.

“Kalau orang sudah terdoktrin, kadang tidak bisa dilawan dengan kata-kata. Doakan di makam para wali,” katanya.

Pernyataan ini memperlihatkan pendekatan spiritual khas pesantren dalam menghadapi perbedaan ideologi keagamaan.

Humor, Keakraban, dan Gaya Ceramah Pesantren

Meski membahas isu serius, ceramah tersebut juga dipenuhi humor yang mengundang tawa jamaah. Mulai dari candaan tentang utang, tambahan istri, hingga guyonan khas pesantren yang cair dan akrab.

Ketika mendoakan Banser agar hidupnya berkah dan kaya raya, sang penceramah sempat bercanda soal tambahan istri yang langsung disambut gelak tawa hadirin.

Candaan lain muncul saat membahas hadiah emas bagi istri jika suami ingin menikah lagi. Humor-humor seperti ini menjadi ciri khas ceramah pesantren tradisional yang mampu menjaga suasana tetap hangat dan tidak tegang.

Di balik humor itu, tersimpan pesan sosial tentang keluarga, tanggung jawab, dan hubungan suami-istri dalam masyarakat pesantren.

Wali Songo dan Islam Nusantara

Salah satu poin penting dalam pidato tersebut adalah penegasan tentang peran besar Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Sang penceramah menyebut pengaruh Wali Songo tidak hanya terbatas di Pulau Jawa, tetapi meluas hingga Sumatera, Kalimantan, Maluku, Papua, dan wilayah Nusantara lainnya.

Ia menghubungkan jaringan kesultanan di berbagai daerah dengan dakwah para wali dan keturunannya.

“Pasuruan adalah monumen penyebaran Islam para wali,” katanya.

Narasi ini memperkuat konsep Islam Nusantara sebagai hasil perpaduan dakwah, budaya lokal, dan jaringan ulama yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Doa untuk Santri dan Generasi Penerus

Menjelang akhir ceramah, doa-doa panjang dipanjatkan untuk para santri, guru ngaji, kiai, dan generasi muda NU. Sang penceramah berharap agar santri masa depan menjadi lebih alim, lebih cerdas, dan lebih cinta kepada agama serta bangsa dibanding generasi sebelumnya.

“Jadikan santri-santri kami lebih baik dari kami,” doanya.

Pesan tersebut menunjukkan optimisme bahwa pesantren dan tradisi keilmuan NU akan terus bertahan di tengah perubahan zaman.

Kesimpulan

Haul Mbah Syakaruddin di Pasuruan bukan hanya acara doa bersama, tetapi juga panggung besar peneguhan identitas Islam Nusantara, kecintaan kepada ulama, dan loyalitas terhadap Nahdlatul Ulama serta NKRI.

Ceramah yang disampaikan memadukan unsur spiritual, sejarah, nasionalisme, kritik sosial, dan humor khas pesantren. Di tengah derasnya perubahan sosial dan munculnya berbagai perdebatan keagamaan, acara seperti ini menjadi simbol bahwa tradisi pesantren masih memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Melalui haul, doa, dan penghormatan kepada ulama, masyarakat diajak untuk tetap menjaga sanad keilmuan, persatuan bangsa, serta nilai-nilai Islam yang damai dan berakar kuat di bumi Nusantara.

Yuk, simak langsung videonya di YouTube: 


LihatTutupKomentar